Ikut pameran itu ibarat pergi kencan buta. Kamu sudah dandan maksimal, bayar sewa tempat yang lumayan menguras kantong, dan berharap bisa pulang bawa “jodoh” alias calon pembeli potensial. Tapi sayangnya, banyak brand yang justru cuma jadi pajangan dinding karena strateginya kurang matang.
Menaruh produk di atas meja lalu berharap orang datang sendiri itu namanya optimisme yang berbahaya. Di tengah ribuan pengunjung yang lalu-lalang dengan wajah lelah, kamu butuh sesuatu yang lebih dari sekadar banner “Selamat Datang”. Yuk, kita bahas gimana caranya biar pameran kamu sukses besar dan nggak cuma dapet capeknya doang.
Menentukan “Medan Perang”: Pilih Venue yang Tepat
Jakarta dan sekitarnya punya beberapa “stadion” pameran yang sudah legendaris. Memilih lokasi itu krusial karena tiap tempat punya karakter pengunjung yang beda-beda.
- JCC (Jakarta Convention Center) Lokasinya di jantung kota, Senayan. Kalau pameran di sini, biasanya pengunjungnya campur aduk dari orang kantoran sampai sosialita yang sekalian mau nge-mall. Aksesnya juara, tapi siap-siap macetnya juga juara dunia.
- ICE BSD (Indonesia Convention Exhibition) Ini dia raksasanya venue pameran. Luas banget sampai kadang butuh GPS buat nyari pintu keluar. Kalau target pasar kamu orang-orang Tangerang Selatan yang “berada” atau pameran skala internasional, ICE adalah tempatnya. Tapi ingat, pastikan booth kamu mencolok karena di sini kompetisinya besar.
- JIExpo Kemayoran Tempat paling ikonik buat Pekan Raya Jakarta. Parkirannya luas (walau kalau penuh bisa jalan kaki sampai gempor). Kemayoran cocok untuk pameran industri berat, otomotif, atau bazaar gadget besar.
- Balai Kartini dan Venue Menengah Lainnya Biasanya lebih sering dipakai untuk pameran yang lebih niche atau spesifik, seperti pameran pernikahan atau buku. Suasananya lebih intim, tapi bukan berarti kamu bisa santai-santai.
Visual Booth: Cinta pada Pandangan Pertama itu Nyata
Bayangkan kamu lagi jalan di mall, terus melihat toko yang lampunya remang-remang dan tumpukan dus di pojokan. Pasti kamu malas masuk, kan? Nah, hal yang sama berlaku di pameran. Visual booth adalah penentu apakah orang akan mampir atau cuma lewat sambil buang muka.
Booth pameran kamu adalah wajah brand kamu selama beberapa hari. Jangan pelit di urusan desain. Gunakan pencahayaan yang terang (tapi nggak bikin silau sampai pengunjung berasa diinterogasi polisi), permainan warna yang sesuai brand identity, dan yang paling penting: pesan yang jelas. Jangan sampai pengunjung harus mikir dua menit cuma buat tahu kamu jualan apa.
Kalau kamu pusing mikirin teknis pemasangan atau bingung mau pakai konsep apa, solusinya simpel banget. Kamu tinggal cek sewaboothpameran.id untuk urusan pembuatan dan penyewaan booth yang bakal bikin brand kamu terlihat seperti perusahaan kelas dunia, padahal mungkin di belakang layar kamu lagi deg-degan nunggu closingan pertama.
Tim Penjaga: Antara Sales Pro dan Patung Bernapas
Punya booth sekeren istana tapi tim penjaganya asyik main HP sendiri? Selamat, kamu baru saja membuang uang pameran ke laut. Tim yang menjaga booth adalah ujung tombak. Mereka harus punya energi yang stabil dari jam buka sampai jam tutup.
Berikut kriteria tim penjaga booth yang ideal:
- Proaktif tapi Gak Agresif: Jangan sampai pengunjung baru mau lewat sudah ditarik-tarik tangannya kayak di pasar kaget. Cukup berikan senyum tulus dan sapaan yang ramah.
- Product Knowledge yang Matang: Malu banget kalau ada pengunjung tanya spesifikasi produk, terus tim kamu jawabnya, “Aduh sebentar ya kak, saya tanya bos dulu.”
- Ketahanan Fisik: Berdiri berjam-jam itu berat. Pastikan tim kamu punya waktu istirahat yang cukup biar wajahnya nggak kelihatan kuyu di sore hari.
Ingat, orang membeli dari orang yang mereka sukai. Jadi, pastikan tim kamu bukan tipe yang kalau ditanya sedikit langsung pasang muka jutek seolah-olah ditanya utang lama.
Strategi “Gimmick” yang Gak Murahan
Di pameran, kamu berkompetisi dengan ratusan booth lain yang mungkin bagi-bagi brosur gratis. Biar beda, coba buat sesuatu yang interaktif. Bisa berupa lucky draw, spot foto yang Instagrammable (ini penting banget di zaman sekarang), atau sekadar menyediakan dispenser air minum buat pengunjung yang haus setelah muter-muter.
Interaksi kecil ini adalah pintu masuk untuk memulai percakapan. Begitu mereka berhenti buat minum atau foto, di situlah tim kamu masuk dengan pendekatan yang santai. Jangan langsung “jualan keras”, tapi mulailah dengan membangun relasi.
Follow-Up: Pekerjaan Rumah yang Sering Dilupakan
Banyak orang merasa pameran selesai saat mereka packing barang. Padahal, pameran baru benar-benar membuahkan hasil saat proses follow-up dimulai. Kumpulkan data pengunjung (leads) sebanyak-banyaknya. Bisa lewat scan QR code, tukar kartu nama, atau isi buku tamu digital.
Setelah pameran selesai, jangan tunggu sampai seminggu baru hubungi mereka. Hubungi maksimal dua atau tiga hari kemudian saat ingatan mereka tentang booth kamu masih segar. Menurut riset dari Harvard Business Review, kecepatan dalam merespons calon pelanggan adalah kunci utama dalam konversi penjualan. Jadi, jangan biarkan kartu nama yang kamu kumpulkan cuma jadi tumpukan sampah di atas meja kantor.
Kesimpulan
Sukses di pameran itu butuh kombinasi antara lokasi yang pas, visual booth yang memukau, tim yang enerjik, dan strategi follow-up yang disiplin. Jangan cuma mengandalkan keberuntungan karena keberuntungan itu biasanya berpihak pada mereka yang persiapannya matang.
Mulai sekarang, rencanakan pameran kamu dengan detail. Pilih venue yang paling mendekati target pasar kamu, siapkan budget untuk booth yang representatif, dan briefing tim kamu sampai mereka paham luar dalam soal produk yang ditawarkan. Dengan begitu, setiap rupiah yang kamu keluarkan untuk sewa lahan pameran akan kembali berkali-kali lipat dalam bentuk loyalitas pelanggan dan angka penjualan yang meningkat.
Pameran bukan soal seberapa besar booth kamu, tapi seberapa besar dampak yang kamu tinggalkan di benak pengunjung. Jadi, sudah siap untuk “perang” di pameran berikutnya?