Suatu malam di bulan Rajab, Bu Laila duduk di beranda rumahnya di Yogyakarta, menatap tabung bambu kecil tempat ia menyimpan uang receh. “Ini tabungan umroh saya,” katanya pada suaminya, Pak Hasyim, dengan mata berbinar. Sejak lima tahun lalu, pasangan ini punya satu mimpi besar: menunaikan umroh sebelum usia 60 tahun.
Namun yang tak pernah mereka sangka, perjalanan itu akhirnya terwujud bukan melalui biro perjalanan besar, melainkan melalui jalur baru yang sedang ramai dibicarakan: umroh mandiri.
Tahun 2025 menjadi titik balik sejarah bagi banyak umat Islam Indonesia. Setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh, masyarakat kini resmi diperbolehkan menunaikan umroh secara mandiri, tanpa harus bergabung dalam paket travel.
Dan di situlah cerita Bu Laila dimulai — kisah tentang keberanian, kemandirian, dan iman yang menuntun langkah ke Tanah Suci.
Awal dari Sebuah Keyakinan
Bu Laila bukanlah orang yang paham teknologi. Awalnya ia skeptis, bahkan takut ditipu jika mengurus semuanya sendiri. Tapi suatu hari, ia membaca artikel tentang visa umroh mandiri yang kini bisa diurus melalui platform resmi dan legal.
Ia pun mulai belajar. Anak sulungnya membantu membuatkan akun untuk pemesanan hotel dan tiket pesawat. “Saya tidak menyangka, ternyata semua bisa dilakukan dari rumah,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah menabung bertahun-tahun, pasangan itu akhirnya membeli tiket, memesan hotel di kawasan Ajyad, dan mengajukan jual visa umroh mandiri lewat agen resmi yang terdaftar di bawah Kementerian Agama. Semua dilakukan dengan hati-hati, penuh doa, dan tentu saja keikhlasan.
UU Nomor 14 Tahun 2025: Payung Hukum untuk Jamaah Mandiri
Sebelum UU ini berlaku, banyak jamaah Indonesia yang ragu untuk melaksanakan umroh tanpa travel. Bukan karena tidak mampu, tapi karena takut dinilai tidak sah atau tidak diakui secara hukum. Kini, kekhawatiran itu hilang.
UU Nomor 14 Tahun 2025 menegaskan bahwa setiap umat Islam yang memenuhi syarat administrasi dapat melaksanakan umroh mandiri. Pemerintah hanya menegaskan satu hal: jamaah wajib memiliki visa resmi, akomodasi, dan tiket pulang-pergi yang sah.
Dengan aturan baru ini, jamaah memiliki kebebasan lebih luas, tapi juga tanggung jawab yang lebih besar. Tak ada lagi alasan untuk takut — karena semua proses telah disiapkan secara transparan dan digital.
Langkah Pertama di Tanah Suci
Saat pesawat mendarat di Jeddah, Bu Laila tak kuasa menahan air mata. Semua rasa lelah seolah lenyap. “Begitu kaki ini menginjak tanah Arab, saya hanya bisa sujud syukur,” ujarnya lirih.
Ia dan suaminya memutuskan untuk berangkat dari hotel ke Masjidil Haram dengan berjalan kaki, meski jaraknya hampir dua kilometer. “Kami ingin menikmati setiap langkah, karena bagi kami, setiap langkah menuju Ka’bah adalah ibadah,” katanya.
Tanpa rombongan besar, tanpa suara pengeras dari muthawif, Bu Laila dan Pak Hasyim melangkah berdua. Mereka membaca doa umroh dari catatan kecil, menangis saat melihat Ka’bah pertama kali, dan melakukan thawaf dengan tenang di bawah langit malam yang penuh doa.
“Mungkin ini arti sesungguhnya dari umroh mandiri,” kata Pak Hasyim. “Bukan hanya soal berangkat sendiri, tapi soal bagaimana kita benar-benar pasrah hanya kepada Allah سبحانه وتعالى.”
Makna di Balik Kemandirian
Bagi banyak jamaah, pengalaman umroh mandiri justru memberi kedalaman spiritual yang tak terduga. Tidak ada ketergantungan pada pemandu atau rombongan — hanya ada hubungan langsung antara hamba dan Sang Pencipta.
Namun kemandirian ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi. Jamaah harus disiplin, mempelajari tata cara ibadah dengan benar, dan menyiapkan mental untuk menghadapi tantangan di negeri orang.
Bu Laila mengaku sempat tersesat di sekitar Masjidil Haram saat mencari pintu keluar, tapi pengalaman itu justru memperkuat imannya. “Saat itu saya panik, tapi saya berhenti dan berdoa. Lalu entah bagaimana, ada ibu dari Indonesia yang menegur dan menuntun saya keluar. Saya tahu, Allah سبحانه وتعالى yang mengirimkan pertolongan itu.”
Panduan untuk Jamaah yang Ingin Umroh Mandiri
Dari kisah Bu Laila, banyak pelajaran yang bisa diambil bagi calon jamaah lain yang ingin mencoba jalur ini:
- Pelajari Prosedur Resmi dari Kemenag dan Arab Saudi
Pastikan semua dokumen sesuai dengan syarat dalam UU No.14 Tahun 2025. - Gunakan Penyedia Visa Resmi
Hanya gunakan layanan jual visa umroh mandiri yang terdaftar dan memiliki izin resmi. - Buat Rencana Perjalanan Detail
Tentukan hotel, transportasi, dan jadwal ibadah sebelum berangkat agar perjalanan lebih tenang. - Gunakan Teknologi untuk Membantu Ibadah
Aplikasi seperti Google Maps, Muslim Pro, atau jadwal shalat lokal bisa sangat membantu. - Tetap Bergabung dengan Komunitas Online Jamaah Mandiri
Mereka bisa jadi tempat bertanya, berbagi pengalaman, dan saling membantu selama perjalanan.
Kembali ke Tanah Air dengan Hati yang Lebih Lapang
Ketika kembali ke Indonesia, Bu Laila tak hanya membawa oleh-oleh kurma dan air zamzam. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan batin dan rasa syukur.
“Umroh mandiri membuat saya sadar bahwa ibadah itu bukan soal kemudahan, tapi soal perjuangan. Saat kita belajar mandiri, kita juga belajar percaya pada pertolongan Allah سبحانه وتعالى,” katanya.
Kini, ia aktif membagikan pengalamannya kepada teman-teman pengajian, mendorong mereka untuk tak takut mencoba jalur mandiri. “Kalau saya yang gaptek bisa, insyaAllah yang lain juga bisa,” ujarnya sambil tertawa.
Penutup: Kemandirian yang Menguatkan Iman
Tren umroh mandiri 2025 bukan sekadar tren modernitas — ia adalah gerakan spiritual. Gerakan yang menumbuhkan kepercayaan diri, tanggung jawab, dan kedekatan dengan Allah سبحانه وتعالى.
Dengan dukungan UU Nomor 14 Tahun 2025, jamaah kini memiliki kebebasan yang legal, aman, dan penuh berkah.
Jadi, jika kamu tengah menabung dan merencanakan perjalanan suci itu, mungkin inilah saatnya. Temukan penyedia visa umroh mandiri resmi, siapkan hati dan niat, lalu langkahkan kaki menuju Baitullah dengan penuh keyakinan. Karena seperti kata Bu Laila:
“Perjalanan paling indah bukan yang diatur orang lain, tapi yang kita jalani sendiri — bersama Allah سبحانه وتعالى.”

